Makalah Aplikasi system Tranduser Sistem barcode pada aplikasi penjualan swalayan

A. Pendahuluan

Dengan berkembangnya teknologi maka semakin banyak juga ditemukan peralatan-peralatan yang memberikan kemudahan dalam semua aspek baik untuk individu maupun perusahaan, yaitu dengan adanya pengembangan dari system otomatisasi peralatan elektronik. Salah satu penerapan teknologi yang diterapkan untuk sistem otomatisasi adalah pengembangan dari teknologi sensor dan tranduser. Pengaplikasian sensor dan tranduser dalam berbagai alat elektronik inilah yang akan memberikan kemudahan bagi manusia untuk membantu dalam berbagai pekerjaan. Salah satu pengaplikasian sensor dan tranduser yang dapat digunakan untuk membantu pekerjaan manusia adalah aplikasi dari sensor fotolistrik pada barcode reader. Contoh aplikasi sistem ini adalah sistem barcode untuk aplikasi penjualan di swalayan atau supermarket.
Sistem barcode mempunyai peran yang penting dalam sistem automatisasi. Barcode menyediakan tingkat keakuratan dalam pengambilan data dan suatu metode pengkodean informasi teks yang sederhana dan murah. Tujuan pokok penggunaan teknologi barcode adalah mengidentifikasi sesuatu dengan memberi label yang berisi barcode. Barcode umumnya digunakan pada aplikasi database dimana data pada barcode hanya memuat indeks database, menghubungkan database yang memuat informasi lebih lengkap. Sebagai contoh, pegawai toko men-scan barcode pada suatu produk, data barcode terhubung ke komputer kemudian mencari informasi di database dan informasi lebih detil termasuk deskripsi barang dan harga. Dengan barcode, toko tidak perlu mencantumkan harga tiap barang dan memungkinkan mengubah harga sewaktu-waktu dengan mengubah database. Database komputer juga dapat merekam berapa banyak barang yang masih disimpan sehingga memudahkan untuk mengetahui jumlah stock barang, dan mengetahui besarnya penjualan barang.

B.Pembahasan
1. Sensor fotolistrik

Sensor fotolistrik adalah salah satu jenis dari sensor sinar. Sensor ini ini berprinsip kerja berdasarkan pantulan karena perubahan posisi/jarak suatu sumber sinar (inframerah atau laser) ataupun target pemantulnya, yang terdiri dari pasangan cahaya dan penerima.
Ada 2 jenis sensor fotolistrik untuk merasakan posisi, masing-masing memancarkan sinar (inframerah/laser):
a. Jenis reflektif,untuk mendeteksi sinar yang dipantulkan dari target
b. Jenis Through beam, untuk mengukur perubahan jumlah sinar yang disebabkan oleh target yang menyerang sumbu optik
Sensor fotolistrik dapat melakukan beberapa mekanisme deteksi :
a. Deteksi tanpa kontak
b. Deteksi target dari bahan sebenarnya
c. Deteksi jarak jauh
d. Respon kecepatan tinggi
e. Diskriminasi warna
f. Deteksi sangat cermat
Pada kebanyakan sensor ini digunakan Light Emitting Diode (LED) untuk mentransmisikan, dan fototansistor untuk penerima sumber.

2. Barcode
Secara harfiah barcode berarti susunan kode baris/batang. Barcode merupakan sebuah tulisan, tapi huruf yang digunakan berupa deretan simbol/kode yang mewakili nilai tertentu. Barcode terdiri dari susunan baris batang hitam dan spasi putih dengan jarak dan ketebalan tertentu, sesuai dengan informasi yang terdapat dalam kode tersebut. Pengkodean data dalam sebuah barcode dilakukan dengan fixed code per-karakter sehingga keamanan dan keakuratan data lebih terjamin karena jika sebuah salah satu kode bar tidak terbaca (rusak), maka barcode tersebut tidak akan dapat dibaca oleh alat pembaca.
Barcode dapat dibuat dengan editor grafis seperti Corel Draw, Adobe Photoshop, dan lain-lain. Barcode juga dapat dibuat dengan program-program editor seperti MS Word, Notepad, Dreamweaver dan lain-lain, dengan syarat jenis font barcode sudah dimasukkan dalam windows komputer, sehingga jenis font karakter-karakter yang diketikkan dapat diubah menjadi jenis font barcode. Ada beberapa jenis font barcode yang sering digunakan , antara lain WASP 39, WASP 128, dan WASP 12of5. Font-font barcode tersebut dapat di download secara gratis di Internet, di alamat situs http://www.barcodesinc.com/free-barcode-font/. Barcode untuk keperluan retail, salah satu contohnya adalah UPC (Universal Price Codes), biasanya digunakan untuk keperluan produk yang dijual di supermarket.
Terdapat banyak metode untuk membuat label barcode, yang kesemuanya berbeda satu sama lain dalam cara mengkodekan data pada barcode. Misalnya; EAN-13, metode ini sering dijumpai dalam dunia bisnis (jual-beli) di Indonesia. Metode ini mengkodekan hanya data numerik yang terdiri atas 13 digit yang merupakan gabungan dari kode nomor sistem, kode perusahaan, kode produk dan satu digit cek. Lain halnya dengan metode Code 39, yang dapat mengkodekan huruf capital, angka dan beberapa karakter spesial. Panjang data yang dikodekan bebas sepanjang tidak melebihi kemampuan alat pembaca barcode.
Kategori barcode berdasarkan kegunaan:
a. Barcode untuk keperluan packaging. Barcode untuk packaging biasanya digunakan untuk pengiriman barang, dan salah satunya adalah barcode tipe ITF.
b. Barcode untuk penerbitan. Barcode untuk keperluan penerbitan, sering digunakan pada penerbitan suatu produk, misalkan barcode yang menunjukkan ISSN suatu buku.
c. Barcode untuk keperluan farmasi. Barcode untuk keperluan farmasi biasanya digunakan untuk identifikasi suatu produk obat-obatan. Salah satu barcode farmasi adalah barcode jenis HIBC.
d. Barcode untuk keperluan non retail. Barcode untuk kepentingan non retail, misalkan barcode untuk pelabelan buku-buku yang ada di perpustakaan. Salah satu tipe barcode untuk keperluan non retail ini adalah Code 39.
e. Barcode untuk keperluan lain

A. UPC (Universal Product Code)
UPC (Universal Product Code) digunakan secara luas pada industri grosir khususnya di Amerika Serikat dan Kanada. Pada kode barcode standarnya, yaitu UPC-A, terdiri atas 1 digit sebagai nomor sistem pada awal barcode, 5 digit nomor manufaktur, 5 digit nomor produk dan 1 digit sebagai digit cek. Nomor sistem menunjukkan penggunaan satu diantara sepuluh nomor sistem yang ditetapkan oleh UPC, yaitu:
- 0, 6 dan 7 untuk kode UPC reguler.
- 2 untuk barang-barang di toko.
- 3 untuk kode obat-obatan dan barang kesehatan lainnya.
- 4 untuk barang selain makanan.
- 5 untuk penggunaan kupon.
- 1, 8 dan 9 sampai sekarang belum digunakan.

A.1. Perhitungan Digit Cek UPC-A
Digit cek dihitung dengan hasil sisa bagi (modulus) 10. Berikut adalah langkah-langkah untuk menghitung digit cek:
1. Jumlahkan nilai digit pada posisi 1, 3, 5, 7, 9, dan 11.
2. Kalikan hasil langkah 1 dengan 3.
3. Jumlahkan nilai digit pada posisi 2, 4, 6, 8, dan 10.
4. Jumlahkan hasil pada langkah 2 dan 3.
5. Digit cek adalah angka terkecil jika ditambahkan ke hasil langkah 4, menghasilkan bilangan kelipatan 10.
Sebuah contoh sederhana, diberikan data barcode=01234567890
- 0 + 2 + 4 + 6 + 8 + 0 = 20
- 20 X 3 = 60
- 1 + 3 + 5 + 7 + 9 = 25
- 60 + 25 = 85
- 85 + X = 90 (bilangan setelah 85 kelipatan 10), maka X = 5 (digit cek)

A.2. Pengkodean Simbol UPC-A
Pengkodean simbol pada UPC-A adalah angka “1” mewakili baris, sedangkan “0” mewakili spasi.

Tabel 1. Pengkodean karakter pada UPC-A

Oleh karena itu, angka 1101 mewakili satu baris lebar (dua buah baris), diikuti dengan spasi pendek dan kemudian baris pendek. Jika dikodekan akan menghasilkan barcode seperti pada gambar 2. UPC-A mempunyai stuktur sebagai berikut:
1. Batas kiri, dikodekan dengan 101 .
2. Karakter pertama dari kode nomor sistem, dikodekan pada tabel berikut.
3. 5 karakter dari kode manufaktur, dikodekan pada tabel berikut.
4. Batas tengah, dikodekan dengan 01010.
5. 5 karakter kode produk, dikodekan sebagai karakter right-hand, dijelaskan di bawah.
6. Digit cek, dikodekan sebagai karakter right-hand, dijelaskan di bawah.
7. Batas kanan, dikodekan dengan 101.
Karakter yang dikodekan pada bagian kiri dari batas tengah disebut sebagai left hand side sedangkan karakter di kanannya sebagai right hand side. Tabel 1 mengindikasikan bagaimana mengkodekan setiap digit UPC-A bergantung pada bagian kiri atau kanan barcode.

A.3. UPC-E

UPC-E digunakan pada barang yang dikemas dengan pak atau bungkus yang ukurannya sangat kecil. UPC-E menggambarkan keseluruhan simbol UPC-A. Hanya simbol UPC-A yang terdiri dari bilangan nol tertentu yang bisa diringkas menjadi simbol UPC-E. Berapa nomor produk yang tersedia ditentukan oleh bentuk dan jumlah angka nol pada nomor manufakturnya.
Aturan peringkasan UPC-A adalah sebagai berikut:
1. Jika nomor manufaktur diakhiri dengan angka 000, 100 atau 200, maka kode produk mencakup 3 digit angka dan hanya 3 digit pertama dari nomor manufaktur digunakan. Pada kasus ini hanya nomor produk dari 00000-00999 dapat diringkas ke UPC-E. Enam digit UPC-E tersusun atas 2 digit pertama nomor manufaktur diikuti dengan 3 digit terakhir dari nomor produk dan digit ketiga dari nomor manufaktur.
Contoh: 12100-00745 menjadi 127451
2. Jika nomor manufaktur diakhiri dengan angka 300, 400, 500, 600, 700, 800 atau 900 maka kode produk mencakup 2 digit angka. Pada kasus ini hanya nomor produk 00000-00099 dapat diringkas ke UPC-E. UPC-E tersusun atas 3 digit pertama nomor manufaktur, dua digit pertama nomor produk dan angka "3" ditambahkan setelah nomor produk. Contoh: 12500-00081 menjadi 125813
Gambar 3. Contoh barcode UPC-E

Tabel 2. Ganjil-genap pengkodean UPC-E bardasarkan digit cek

Tabel 3. Tabel pengkodean UPC-E

3. Jika nomor manufaktur diakhiri dengan angka 10, 20, 30, 40, 50, 60, 70, 80 atau 90 maka kode produk mencakup 1 digit angka. Pada kasus ini hanya nomor produk 00000-00009 dapat diringkas ke UPC-E. UPC-E tersusun atas 4 digit pertama nomor manufaktur, 1 digit terakhir nomor produk dan angka "4" ditambahkan setelah nomor produk.
Contoh: 12390-00007 menjadi 123974
4. Jika nomor manufaktur tidak diakhiri dengan nol, maka UPC-E tersusun atas 5 digit nomor manufaktur diikuti dengan 1 digit nomor produk. Nomor produk hanya mencakup 00005-00009.
Contoh: 12345-00008 menjadi 123458
Digit cek pada UPC-E tidak secara langsung dikodekan sebagai baris/spasi pada barcode, melainkan dikodekan dengan pengkodean ganjil-genap kode barcode.
Gambar 4. Bagian-bagian barcode EAN-13

Gambar 5. Perbandingan simbol barcode

EAN-13 dengan UPC-A Pengkodean simbol pada UPC-E adalah angka “1” mewakili baris, sedangkan “0” mewakili spasi. Adapun pengkodeannya dapat dilihat pada tabel 3.

B. European Article Numbering (EAN)
EAN diimplementasikan oleh International Article Numbering Association di Eropa. Standar ini digunakan karena standar UPC-A tidak didesain untuk penggunaan internasional, akan tetapi ada pendapat menyatakan ketidaksenangannya akan Amerika Serikat sebagai sentral segala sesuatu terutama di Eropa. Pada EAN, terdapat dua buah metode yang sering digunakan yaitu EAN-13 dan EAN-8. EAN-13 adalah sejenis dengan UPC-A. Hal ini berarti bahwa software atau hardware yang mampu membaca simbol EAN-13 akan dapat membaca simbol UPC-A juga. Perbedaan antara EAN-13 dan UPC-A bahwa kode nomor sistem di UPC dikodekan dengan satu digit saja dari 0 sampai 9, sedangkan kode nomor sistem EAN-13 terdiri atas dua digit dari 00 sampai 99 yang biasanya melambangkan kode negara. Setiap negara mempunyai nomor kode tersendiri. Gambar 4 menerangkan bagian-bagian dari sistem barcode EAN-13:
Pada kenyataaannya, simbol UPC-A adalah simbol EAN-13 dengan digit pertama “0”. Sebagai contoh, ambil kode UPC-A "0 75 6781 641 2 5 ". Pada kode yang sama dinyatakan dalam simbol EAN-13 sebagai "0 075 678 164 12 5 ". Hal ini diperlihatkan pada gambar 5. Bandingkan simbol UPC-A dengan simbol EAN-13. Sekilas, dua barcode diatas tampak berbeda. Pada UPC-A terdapat sebuah nomor pada kiri dan kanan barcode (0 yang merupakan nomor sistem dan 5 yang merupakan digit cek), dan dibawah barcode terdapat dua kelompok teridiri dari 5 digit (kode manufaktur dan kode produk). Pada EAN-13, tidak terdapat digit cek di kanan barcode, dan kelompok angka dibawah barcode terdiri atas 6 digit. Apabila dilihat lebih dekat, terutama baris dan spasi adalah identik.

B.1. Komponen Simbol Barcode EAN-13
Sebuah barcode EAN-13 dibagi menjadi 4 area: pertama, nomor sistem; kedua, kode manufaktur; ketiga, kode produk; dan keempat, digit cek. Umumnya, digit pertama nomor sistem dicetak di kiri barcode, dan digit kedua nomor sistem dicetak sebagai karakter pertama dari kelompok 6 digit bagian kiri barcode, diikuti dengan 5 digit kode manufaktur, kode produk merupa-kan 5 digit pertama pada kelompok 6 digit bagian kanan bawah barcode, dan diikuti dengan digit cek merupakan digit terakhir.
1. Nomor Sistem
Nomor sistem terdiri dari 2 digit (kadang-kadang 3 digit) yang menyatakan otoritas penomoran negara (atau daerah ekonomi) yang memberikan kode manufaktur
2. Kode Manufaktur.
Kode manufaktur merupakan kode yang unik yang diberikan ke setiap manufaktur dengan otoritas nomor yang diidentifikasi dengan kode nomor sistem. Semua produk yang dihasilkan oleh sebuah perusahaan akan memakai kode manufaktur yang sama.
3. Kode Produk.
Kode produk merupakan kode yang diberikan oleh manufaktur pada setiap produk yang dihasilkannya.
4. Digit Cek.
Digit cek merupakan digit tambahan yang digunakan untuk memeriksa apakah barcode telah dibaca secara benar. Sebuah barcode dapat terbaca salah dikarenakan tidak sempurnanya cetakan barcode atau hal-hal yang lainnya. Umumnya, jika digit cek dibaca sama dengan digit cek pada data yang diamati, maka barcode telah terbaca secara benar.

B.2. Perhitungan Digit Cek EAN-13
Sebelum simbol EAN-13 dikodekan, program harus menghitung digit cek terlebih dahulu yang akan ditambahkan di barcode. Digit cek dihitung dengan hasil sisa bagi (modulus) dari jumlah terbobot nilai tiap digit. Pertama, program menandai digit paling kanan bernilai ganjil, kemudian dari kanan ke kiri secara bergantian antara genap dan ganjil. Program kemudian menjumlah-kan angka pada setiap posisi genap, dan menjumlahkan angka dari posisi ganjil dikali tiga.
Langkah-langkah menghitung digit cek adalah sebagai berikut:
1. Dari digit paling kanan tandai dengan posisi ganjil kemudian dari kanan ke kiri tandai secara bergantian dengan ganjil-genap pada setiap digit.
2. Jumlahkan digit pada posisi ganjil dan kalikan hasilnya dengan 3.
3. Jumlahkan digit pada posisi genap.
4. Jumlahkan hasil pada langkah 2 dan 3.
5. Digit cek merupakan angka jika ditambahkan ke hasil langkah ke-4 menghasilkan angka yang dapat dibagi dengan 10.
6. Jika hasil yang dijumlahkan pada langkah ke-4 dapat dibagi dengan 10, maka digit cek adalah “0” (bukan 10).
Sebagai contoh, akan dihitung digit cek dari barcode 0 075 67 81 6 412 5 . Digit terakhir barcode adalah digit cek yaitu "5". Hal ini berarti pesan barcode sendiri adalah 007567816412 (hanya menghilangkan digit terakhir). Barcode ini mewakili nomor sistem "00 ", kode manufaktur "7 5 678 " dan kode produk "1 641 2 ".
Jumlahkan hasil yang didapat dari tiap digit, 0 + 0 + 7 + 15 + 6 + 21 + 8 + 3 + 6 + 12 + 1 + 6 = 85. Digit cek adalah nilai yang harus ditambahkan pada hasil (85) yang akan menghasilkan angka yang dapat dibagi dengan 10. Pada kasus ini, karena angka setelah 85 yang dapat dibagi dengan 10 adalah 90, sehingga harus ditambahkan 5 agar nilai menjadi 90, oleh karena itu digit ceknya adalah "5". Terakhir tambahkan ke barcode semula (00 756 781 641 2 ) dengan digit cek yang telah dihitung (5 ), sehingga menghasilkan pesan akhir 0 0 75 678 164 125 .

B.3. Pengkodean Simbol EAN-13
Pengkodean simbol pada EAN adalah sama dengan UPC, angka “1” mewakili baris, sedangkan “0” mewakili spasi.
EAN-13 mempunyai stuktur sebagai berikut:
1. Batas kiri, dikodekan dengan 101 .
2. Karakter kedua dari kode nomor sistem, dikodekan pada tabel di bawah.
3. 5 karakter dari kode manufaktur, dikodekan pada tabel di bawah.
4. Batas tengah, dikodekan dengan 01010.
5. 5 karakter kode produk, dikodekan sebagai karakter right-hand, dijelaskan di bawah.
6. Digit cek, dikodekan sebagai karakter right-hand, dijelaskan di bawah.
7. Batas kanan, dikodekan dengan 101.
Karakter yang dikodekan pada bagian kiri dari batas tengah disebut sebagai left hand side sedangkan karakter di kanannya sebagai right hand side. Karakter

Tabel 4. Pengkodean EAN-13

pertama dari kode nomor sistem (digit pertama dari symbol EAN-13) dikodekan dengan ganjil-genap pengkodean left-hand side. Dengan kata lain, nilai karakter pertama dari EAN-13 menentukan ganjil-genap setiap karakter left-hand side akan dikodekan. Tabel 4 menjelaskan bagaimana mengkodekan setiap digit EAN-13 bergantung pada bagian kiri atau kanan barcode. Khusus pada digit left-hand, pengkodean (ganjil-genap) didasarkan pada digit pertama dari kode sistem. Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan:
1. Karakter EAN-13 diwakili dengan 7 elemen terdiri atas 2 baris dan 2 spasi. Tidak ada baris atau spasi yang lebih dari 4 elemen. Pengecualian hanya pada batas kiri dan batas kanan (3 elemen), dan batas tengah(5 elemen).
2. Semua karakter pada bagian kiri (left-hand side) selalu diawali dengan 0 (spasi) sedangkan semua karakter pada bagian kanan (right-hand side) selalu diawali dengan 1 (baris).
3. Pengkodean bagian kanan sama dengan pengkodean bagian kiri ganjil, hanya saja “1” diganti dengan “0” dan “0” diganti dengan “1”.
4. Pengkodean bagian kiri genap didasarkan pada pengkodean bagian kiri ganjil. Pengkodean genap dihasilkan dari penggantian semua digit “1” dengan “0” dan “0” dengan “1” kemudian dibaca hasil pengkodean dari arah yang berlawanan (kanan ke kiri). Hasilnya merupakan pengkodean bagian kiri genap.
Tabel 5 mengindikasikan ganjil-genap tiap karakter pada bagian kiri akan dikodekan. Genap-ganjil didasarkan pada digit pertama dari EAN-13. Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan:
1. Digit kedua nomor sistem selalu dikodekan dengan pengkodean ganjil.
2. Semua simbol EAN-13 (yang digit nomor sistem pertama tidak nol) selalu dikodekan tiga karakternya dengan pengkodean genap dan dua karakter dengan pengkodean ganjil.
Sebagai contoh; dikodekan nilai "75 01 0 3131 130 9 ". Nomor sistem adalah "75", kode manufaktur "01031", kode produk "31130". Langkah pertama, kita hitung terlebih dahulu digit cek:
Hasil penjumlahan 7 + 15 + 0 + 3 + 0 + 9 + 1 + 9 + 1 + 3 + 3 + 0 = 51. Angka 9 harus ditambahkan supaya hasil dapat dibagi 10 (51 + 9 = 60), maka digit cek adalah 9. Selanjutnya, dilihat digit pertama nomor sistem (“7”) dan dicari pada tabel pengkodean ganjil-genap, maka didapat digit kedua nomor sistem dan kode manufaktur harus mengikuti aturan “Ganjil/Genap/ Ganjil/Genap/Ganjil/Genap”. Hal ini berarti digit kedua nomor sistem dikodekan dengan pengkoedan bagian kiri ganjil, digit pertama kode manufaktur dengan pengko-dean bagian kiri genap dan seterusnya. Selanjutnya, pengkodean dimulai dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Left guard bars (selalu sama): 101 .
2. Digit kedua nomor sistem [5]: dikodekan dengan
3. pengkodean kiri ganjil, 0110001 .
4. 3 Digit pertama kode manufaktur [0]: dikodekan
5. dengan pengkodean kiri genap, 0100111 .
6. 4 Digit kedua kode manufaktur [1]: dikodekan
7. dengan pengkodean kiri ganjil, 0011001 .
8. 5 Digit ketiga kode manufaktur [0]: dikodekan
9.dengan pengkodean kiri genap, 0100111 .
10. Digit keempat kode manufaktur [3]: dikodekan dengan pengkodean kiri ganjil,, 0111101 .
11. Digit kelima kode manufaktur [1]: dikodekan dengan pengkodean kiri genap, 0110011 .
12. Centar guard bars (selalu sama): 01010 .
Tabel 5. Ganjil-Genap berdasarkan digit pertama EAN-13

Gambar 6. Barcode EAN-13 dengan karakter 7501031311309

13.Digit pertama kode produk [3]: dikodekan dengan pengkodean kanan, 1 000 010 .
14.Digit kedua kode produk [1]: dikodekan dengan pengkodean kanan, 1 100 110 .
15.Digit ketiga kode produk [1]: dikodekan dengan pengkodean kanan, 1 100 110 .
16.Digit keempat kode produk [3]: dikodekan dengan pengkodean kanan, 1 000 010 .
17.Digit kelima kode produk [0]: dikodekan dengan pengkodean kanan, 1 110 010 .
18.Digit cek [9]: dikodekan dengan pengkodean kanan, 1 110 100 .
19.Right guard bars (selalu sama): 101 . Angka “1” mewakili baris dan “0” mewakili spasi.
Jika kita ubah susunan angka tersebut akan menghasilkan barcode seperti pada gambar 6.

B.4. Metode EAN-8
EAN-8 merupakan versi yang dipendekkan dari versi kode EAN-13. EAN-8 terdiri atas 2 atau 3 digit kode negara, 4 atau 5 digit data (tergantung panjang kode negara) dan sebuah digit cek. Tujuan utama dari kode EAN 8 adalah menggunakan ruang sekecil mungkin.
Tabel 6. Pengkodean EAN-8

Tidak seperti simbol UPC-E yang mengkompres data simbol UPC-A yang dapat dicetak keseluruhan dengan menghilangkan angka 0(nol), kode EAN 8 dikhususkan untuk mengidentifikasi produk dan pembuat produk. Karena keterbatasan angka pada kode EAN 8, maka kode ini biasanya hanya digunakan untuk produk dengan tempat yang tidak memungkinkan untuk kode EAN-13.
Struktur EAN-8 tersusun atas:
1. Baris pembatas awal.
2. Empat digit dengan pengkodean bagian kiri.
3. Baris pembatas tengah.
4. Empat digit dengan pengkodean bagian kanan.
5. Baris pembatas akhir.
Pengkodean EAN-8 dapat dilihat pada tabel 6, dimana angka “1” mewakili baris, sedangkan “0” mewakili spasi.

3.Pembaca Kode Batang/Barcode scanner
Untuk memahami bagaimana suatu scanner barcode bekerja, kita harus menjelajah bagian-bagian dari alat yang berbeda. Pada dasarnya, ada 3 bagian fungsional kepada scanner barcode itu sendiri yaitu sistim kekuatan penerangan, sensor / konvertor, dan dekoder.
Scanner Barcode mulai dengan memperjelas kode dengan lampu merah. Sensor dari scanner barcode mendeteksi cahaya terpantul dari sistim kekuatan penerangan dan menghasilkan satu sinyal analog dengan bermacam-macam voltase yang menunjukkan intensitas (atau ketiadaan intensitas) cerminan/pemantulan. Konvertor mengubah sinyal analog itu menjadi suatu sinyal digital yang dikirimkan kepada dekoder. Dekoder menginterpretasikan sinyal digital, mengerjakan bahwa math yang diperlukan untuk mengkonfirmasikan dan mengesahkan bahwa barcode dapat dipecahkan, mengkonversi nya ke dalam teks ASCII, bentuk-bentuk teks dan gurau yang kepada computer dimana scanner terhubung.
Barcode reader adalah alat yang digunakan untuk membaca kode-kode visual barcode. Barcode reader dapat digunakan langsung pada komputer karena barcode reader merupakan perangkat plug and play sehingga akan dikenali sebagai sebuah hardware baru oleh komputer. Koneksi barcode reader dengan komputer menggunakan port serial seperti perangkat keyboard, mouse, printer atau scanner. Koneksi barcode reader dengan komputer dapat dilakukan dengan Port PS2 (keyboard interface), interface RS232, Bluetooth atau USB, tergantung dari jenis dan tipe barcode reader yang digunakan. Pengecekkan koneksi dan fungsi barcode reader dapat dilakukan melalui Notepad, jika barcode reader sudah terkoneksi maka hasil pembacaan kode tersebut akan langsung diterjemahkan dalam Notepad. Penggunaan barcode reader bertujuan untuk mengurangi kerja operator (manusia) dalam suatu proses transaksi sehingga proses tersebut akan berjalan lebih efektif dan efisien. Misal, seorang pegawai swalayan akan lebih cepat membuat data identitas barang dengan men-scan barcode yang tertera pada barang tersebut. Barcode reader memiliki beberapa kelebihan dibanding keyboard, antara lain (Galbiati, Jr., 1990):
•Memiliki kecepatan membaca data lebih tinggi daripada mengetik
•Memiliki tingkat ketelitian yang lebih tinggi
•Tingkat keakuratan dan keamanan data lebih terjamin
•Lebih efisien dan mudah digunakan
Gambar 7. Scanner Barcode

masing-masing fungsional bagian dari suatu scanner barcode secara lebih detil yaitu:
1.Sistem Kekuatan Penerangan
Sistim kekuatan penerangan adalah metoda dengan mana palang-bar dan ruang spasi di barcode itu diterangi. Ada bermacam sistem kekuatan penerangan yang biasanya digunakan di scanner-scanner barcode:
A.LED Titik Tunggal
Teknologi ini adalah eksklusif kepada pembaca tongkat barcode dan pembaca slot barcode. Kekuatan penerangan barcode datang dari LED diode dan difokuskan melalui suatu pembukaan jenis peluru/bola yang tunggal. Teknologi ini memerlukan peluru/bola secara phisik menyentuh barcode yang sedang diteliti.
Karena kekuatan penerangan itu di suatu titik, operator itu harus menyediakan gerakan kepada sumber terang barcode yang lampau. Di dalam kasus dari suatu tongkat barcode, operator menyeret peluru/bola kekuatan penerangan ke seberang barcode. Karena pembaca pukulan atau slot, barcode itu adalah pada umumnya dicetak di suatu kartu kredit seperti media. Operator menarik kartu melalui suatu slot yang melalui kepala cahaya tersebut. Pembaca Slot dan tongkat bersifat murah, dan dapat mengakomodasi setiap panjangnya dari barcode. Ada beberapa kerugian-kerugian dari metoda kekuatan penerangan titik yang tunggal. pembaca Slot dan tongkat memerlukan operator itu untuk mengendalikan kecepatan di mana barcode lewat di depan kepala kekuatan penerangan. Karena barcodes harus dalam hubungan dengan kepala kekuatan penerangan untuk membaca, barcode itu dapat dengan mudah dirusakkan oleh lecet/pengausan berhadapan muka media bahwa penghuni barcode yang dicetak. Meski kepala kekuatan penerangan dikeraskan, itu akan melusuhkan dan harus digantikan secara teratur.
Gambar8. LED titik tunggal

B.LED Ganda Linier
Pengembangkan di sistim kekuatan penerangan titik yang tunggal, menempatkan berbagai LED di dalam satu baris memberi kemampuan itu untuk menerangi seluruh lebar dari barcode. Kekuatan penerangan jenis ini digunakan di scanner-scanner CCD dan Linear Imagers. Ketika yang digunakan di scanner-scanner CCD, LED dipasangkan dengan satu baris dari fotosel-fotosel untuk mendeteksi cahaya terpantul dari barcode Since LED itu secara relatif rendah dalam kuasa, dan fotosel-fotosel itu bersifat rendah di dalam kepekaan, cakupan dari CCD barcode scanner-scanner adalah secara umum dibatasi dari sedang berada dalam kontak dengan barcode itu kepada 1" jauhnya.
Gambar 9. LED ganda linier

C. Laser
Metoda kekuatan penerangan jenis ini gunakan suatu diode laser titik merah serupa dengan suatu tongkat penunjuk laser. Pokok dari cahaya adalah yang diperluas ke dalam satu baris oleh yang bergerak kesana kemari laser ke dalam suatu cermin keperluan, atau memproyeksikan pokok ke dalam satu cermin yang bergerak kesana kemari. Metoda kekuatan penerangan ini adalah sangat populer oleh karena jarak-jarak yang aktip kerja yang pada umumnya dicapai bersifat kekuatan penerangan pokok lebih pandai daripada atau linear LED metoda-metoda kekuatan penerangan. Jarak-jarak aktip kerja khas adalah dari 1" kepada 18". Oleh meningkatkan kuasa laser dan mengurangi penjuru/sudut goyangan, cakupan-cakupan dari (di) atas 20 kaki dapat diperoleh.
LED Imager -Linear dan imager penuh adalah sangat serupa dengan alat CCD, dengan beberapa yang penting berubah. Di dalam imagers yang linier, jumlah kekuatan penerangan adalah meningkat dengan dengan cahaya yang tinggi LED's, dan merasakan fotosel-fotosel lebih sensitip. Teknologi imaging linier meniru kedua-duanya cakupan dan fokus dari scanner-scanner laser.
Dalam imagers penuh, intensitas ketinggian LED menerangi suatu target telusuran bujur sangkar ". Sensor-sensor terang dalam imagers penuh adalah sangat serupa dengan sensor-sensor terang di dalam kamera-kamera satu warna. Sensor-sensor mencari target telusuran bujur sangkar untuk suatu barcode yang valid. Oleh memasangkan sensor-sensor target cocok bahwa mencari penyiku lapangan target untuk suatu barcode yang valid, LED diode pemancar cahaya) imagers penuh adalah omni directional -anda tidak harus berbaris barcode bagaimanapun juga dalam urutan untuk dikodekan. metoda Target / snapshot memberi LED diode pemancar cahaya) imagers kemampuan itu untuk membaca 2-dimensional barcodes juga. Dengan mengabaikan metoda itu digunakan untuk menerangi barcode, metoda kekuatan penerangan menyebabkan cahaya terpantul untuk kembali ke kepala scanner dan dilihat oleh sensor.
Gambar 10. Laser

2. Sensor dan Converter
Suatu pikiran sehat detektor foto cahaya terpantul dan menghasilkan satu sinyal analog dengan bermacam-macam voltase. Voltase berubah-ubah yang didasarkan pada apakah sensor melihat cahaya terpantul dari ruang spasi yang putih karena palang bar yang hitam menyerap lampu merah. Teknologi yang digunakan di dalam sensor itu dapat bertukar-tukar tergantung pada metoda kekuatan penerangan. Keluaran itu adalah selalu yang sama -suatu bentuk gelombang voltase dengan puncak-puncak untuk ruang spasi yang putih, dan palung-palung untuk ruang spasi yang hitam di dalam barcode. Dalam satu imaging barcode scanner, sensor menutup(meliput seluruh target scan dan menghasilkan suatu bentuk gelombang 2-dimensional. Di dalam kedua-duanya kasus-kasus, sinyal analog ini dikirim kepada konvertor. Konvertor mengubah sinyal analog itu menjadi suatu sinyal digital. Isyarat ini adalah penyajian yang digital dari apa yang sensor deteksi dari cahaya terpantul. Sejak scanner barcode mempunyai suatu sinyal digital, isyarat itu ditransfer ke dekoder scanner barcode .
Gambar 11. Sensor dan decoder

3. Decoder
Dekoder di suatu scanner barcode melaksanakan bermacam fungsi-fungsi. Pertama yaitu menganalisis sinyal digital dari sensor, dan mengetest untuk melihat jika itu dapat ditafsirkan sebagai suatu barcode yang valid. Di dalam test ini, scanner mencari keseragaman dari ruang spasi yang putih (isyarat tinggi) di masing-masing sisi dari sinyal digital, dan keseragaman antara puncak-puncak dan lembah-lembah dari sinyal digital diri sendiri. Lalu, menguji sinyal digital untuk conformance dengan setiap dan semua symbol barcode yang dirancang dan yang disiapkan untuk dibaca. Decoder scanner Barcode akan diprogram untuk menerjemahkan beberapa symbol barcode bukan yang lain. Salah satu hal yang sangat penting yaitu memperhatikan lembar data yang disediakan oleh pabrikan dari scanner, kenudian mempertimbangkan untuk memastikan bahwa decoder akan mendekoderkan spesifik simbol barcode. Scanner-scanner dengan kinerja yang baik, harga dan ketahanan sering hanya yang diprogramkan untuk dekode yang paling umum dari symbol barcode yang linier. Dalam banyak kasus, anda dapat mengatakan kepada dekoder itu untuk mengabaikan barcodes bahwa bukan dari simbol yang diinginkan. Sebagai contoh, di atas suatu label pengiriman, ada barcodes ganda di suatu ruang(spasi yang relatif kecil. Kebanyakan dari waktu, mereka menjadi/berasal dari simbol yang berbeda, dan scanner itu disiapkan untuk hanya baca 1 jenis selama operasi tertentu. Hal ini untuk menyimpan/memelihara data yang tidak sesuai dari menjadi yang dikirim ke komputer host. Ketika decoder mendapatkan kecocokan simbol, dekoder mulai untuk menguji sinyal digital untuk conformance dengan format symbol barcode. Hal ini melibatkan pengubah puncak-puncak dan lembah-lembah kepada teks ASCII dan melakukan math yang diperlukan untuk mengkalkulasi digit cek di permulaan dan akhir dari barcode. Jika isyarat lewat semua test ini, dekoder itu akan melakukan keseluruhan proses lagi, kembali sampai itu diyakinkan bahwa ada suatu barcode yang valid (isyarat itu adalah valid) dan bahwa itu bisa dipahami. Ketika anda memperhatikan lembar data untuk suatu scanner barcode, anda akan melihat spesifikasi tingkat scan. Nomor ini adalah secara umum antara 70 dan 200 scan per detik. Dekoder itu akan disimpan asumsi untuk melihat 10-15 baca yang baik dari barcode sebelum itu menyimpulkan bahwa barcode adalah valid dan melanjutkan kepada langkah tentang pengaturan teks ASCII dan mengirimkannya kepada tuan rumah. Begitu dekoder sudah menyimpulkan bahwa barcode adalah valid dan itu sudah lakukan math itu untuk mengkonversi sinyal digital itu menjadi teks ASCII, decodr memeriksa pengaturan teks memerintah bahwa itu sudah diprogramkan. Sebagai contoh, dekoder itu bisa diprogramkan dengan penambahan asumsi suatu Akhiran penyorong kembalian pada akhir String ASCII. Banyak dekoder-dekoder scanner barcode mempunyai kemampuan-kemampuan bentuk teks rapi dan tangguh. Sebagai contoh, untuk suatu Code 39 barcode, itu bisa diprogramkan untuk membuka pakaian pertama 3 digit, menambahkan karakter "Suatu" pada awal dawai, orang bertobat semua 7's kepada B dan menambahkan 5 Z dan suatu tab pada akhirnya. Kemampuan pengaturan teks ini dapat diprogramkan secara langsung ke dalam dekoder menggunakan manual yang disiapkan untuk programming scan barcodes. Kebanyakan pabrikan-pabrikan scanner juga menyediakan kegunaan-kegunaan perangkat lunak untuk melaksanakan programming. Lalu setelah teks diformat, teks tersebut dikirim ke PC. Jika koneksi itu adalah USB atau Keyboard Wedge, teks itu akan muncul di dalam aplikasi di mana cursor itu sedang menyiarkan. Jika koneksi itu adalah kepemilikan dari RS232, teks itu akan ditangkapi oleh program aplikasi dan disimpan sewajarnya. Menggunakan satu koneksi RS232 memberi anda kemampuan itu untuk menangkap dan memproses barcode data tanpa desktop PC melihat pengguna apapun di layar. Yang paling sering kali, dekoder menjadi bagian dari scanner barcode diri sendiri, dan untaian itu adalah normalnya ditempatkan di dalam pegangan dari tangan barcode scanner. Di dalam scanner-scanner yang lebih tua, dekoder itu terlalu limbak untuk menjadi tercakup di perumahan scanner barcode, sehingga scanner tidak mempunyai nya. Itu mengirim sinyal digital sepanjang kabel. Kotak dekoder disambungkan ke PC. Barcode scanner-scanner tanpa satu dekoder yang terintegrasi disebut "tidak dikodekan" scanner-scanner.

4. Cara Kerja
Sistem ini dibuat dengan komponen :
- Barcode scanner
- PC server
- PC klient
- Hub/Router
- Printer
- Software penjualan klient-server

Cara kerja system:
- Barcode scanner membaca barcode pada barang
- Barcode scanner mengirimkan data barang tersebut ke pc klient dan muncul pada kode barang. kode barcode ini yang dijadikan kode barang karena bersifat unique.
- Data barang akan muncul di software penjualan di pc klient setelah Pc klient memanggil pc server untuk meminta data dari kode tersebut dan kemudian server memberikan data informasi harga kepada pc klient
- Pada software pc klient akan menampilkan nama barang,harga dan berapa banyak jumlah barang (diinputkan secara manual) dan kemudian akan mensubtotal harga tersebut.
- Print daftar harga yang akan diberikan kepada konsumen

Tabel 7. Software aplikasi penjualan

Gambar 12. Struktur peralatan pada aplikasi penjualan menggunakan barcode reader

C. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah
a.Barcode scanner adalah salah satu dari aplikasi sensor fotollistrik yang menggunakan LED.
b.Sistem barcode dimanfaatkan untuk memudahkan input data dan mengganti harga barang ke dalam aplikasi penjualan pada swalayan.
c.Sistem barcode meminimalis kesalahan penginputan data yang dilakukan secara manual melalui keyboard dan memberikan kecepatan dan ketepatan dalam input data.


Daftar Pustaka
Basuki ST,Agung yoke.Modul Perkuliahan Sensor dan Tranduser Universitas Mercubuana.2011.
Pujianto,Paksi. LAPORAN TA PERENCANAAN PERANGKAT PENGENDALI PINTU OTOMATIS MENGGUNAKAN BARCODE DI PERPUSTAKAAN POLINES POLITEKNIK NEGERI SEMARANG.2008.
2011.http://eprints.ums.ac.id/3/1/Emitor_ARR_TeknikPengkodeanBarcodeUPC_EAN.pdf
2011.http://id.wikipedia.org/wiki/Kode_batang
2011.http://www.innovativeelectronics.com/innovative_electronics/download_files/artikel/ar_barcode_1.pdf
2011.http://en.wikipedia.org/wiki/Barcode_reader
2011.http://courses.cit.cornell.edu/ee476/FinalProjects/s2006/nrs27th257/nrs27th257/index.html
2011.http://courses.cit.cornell.edu/ee476/FinalProjects/s2006/nrs27th257/nrs27th257/QEC122.pdf
2011.http://jakarta.indonetwork.co.id/alat_barcode/group+91830/gun-barcode-scanner.htm
2011.http://www.carolinabarcode.com/how-barcode-scanners-work-a-69.html
2011.http://courses.cit.cornell.edu/ee476/FinalProjects/s2006/nrs27th257/nrs27th257/index.html
2011.http://courses.cit.cornell.edu/ee476/FinalProjects/s2006/nrs27th257/nrs27th257/L14F1.pdf

No comments: